Pada suatu pagi yang cerah di suatu sekolah,
terdapat seorang gadis yang sedang duduk ditaman sekolah beberapa menit yang
lalu. Ditangannya terdapat sebuah buku novel yang sedang dibacanya. Wajahnya
menunjukkan ekspresi serius sekali tanda dia sedang menghayati apa yang sedang
dibacanya.
Namanya adalah Amel. Dia seorang gadis yang cerdas
dan tidak banyak bicara. Dia juga selalu mendapat peringkat pertama disetiap
pembagian raport. Rambutnya lurus dan panjang sebahu. Dan matanya hitam.
Jam masih menunjukkan pukul 07:00 pagi. Sekolah
masih sangat sepi. Amel lalu melangkahkan kakinya menuju kelasnya yang berada
diarah barat sekolahnya. Setibanya dia dikelasnya, dia lalu melepaskan
sepatunya dan mengambil sapu untuk mulai menyapu kelasnya karena hari ini dia
piket kebersihan dikelasnya.
Tiba tiba datanglah Indah, yang langsung masuk ke
kelasnya dan menghentak hentakkan kakinya yang masih mengenakan sepatu. Amel
dan Indah adalah teman sekelas. Indah adalah gadis yang ceria dan aktif. Dia
tidak terlalu pintar tapi juga tidak terlalu bodoh.
“upss….ada yang lagi nyapu ya ternyata. Aku kirain
sapunya bergerak sendiri.”
“kamu punya mata kan, kamu kira aku ini hantu.
Lepasin juga sepatu kamu itu, gara gara sepatu kamu lantai yang udah bersih
jadi kotor lagi.”
“huh, minggiiiiiiir…..”
Indah pun berlalu keluar kelas dan ketika melewati
Amel dia sengaja menabrakkan bahunya kebadan Amel. Tapi sebelum dia terjatuh
kelantai, ada tangan lain yang menarik tangannya agar tidak terjatuh.
“Amel, kamu gak papa kan ?”
“gak papa kok Rio, makasih ya.”
“Indah kalo jalan hati hati dong.” kata Rio.
“huh, aku gak liat.”
Akhirnya Indah benar benar pergi dari kelas. Dan
meninggalkan dua orang dibelakangnya yang terdiam.
“sebenarnya kalian itu kenapa sih ? padahal setahuku
kalian itu sahabat dari kecil dan sangat akrab dulu.” Kata Rio.
“ceritanya panjang Rio, aku gak bisa ceritain
sekarang. Maaf ya.”
“ya udah gak papa, aku gak maksain kamu kok buat
cerita sekarang.”
JAM ISTIRAHAT
Indah sekarang sedang duduk dikelasnya. Seperti
biasa ditangannya ada sebuah buku yang sedang dibacanya. Tiba tiba pikirannya
melayang pada kejadian satu tahun yang lalu.
1 TAHUN YANG LALU
Dulu Amel dan Indah adalah sahabat yang sangat
akrab. Kemana pun mereka pergi, mereka selalu bersama dan tak terpisahkan. Kemudian
pada suatu hari, mereka mendapat tugas kelompok bersama membuat suatu prakarya.
Amel dan Indah ternyata berbeda kelompok.
Ketika pada jam istirahat, seperti biasa mereka
istirahat ditaman belakang sekolah sambil memakan beberapa makanan.
“Amel, kelompok kamu akan membuat prakarya apa ?”
“kami belum mendapat ide, Indah. Kami belum
mendiskusikannya, bagaiman dengan kelompokmu ?”
“aku sudah mendapatkan ide untuk kelompokku. Ideku
adalah konsep hutan dengan villa besar dan cantik ditengah hutannya.”
“wah, idemu sangat bagus loh Indah, kelompok yang
lain pasti lebih memilik konsep perkotaan.”
“iya, tapi sayangnya teman teman satu kelompokku gak
menyetujuinya. Jadi kami gak mengambil ideku itu.”
“wah, sayang sekali. Padahal idemu sangat bagus.”
“iya tapi gak papa kok.”
Beberapa hari kemudian setelah pembuatan proyek yang
telah memakan waktu tersebut, tiba saatnya untuk guru pembimbing memeriksa
hasil karya tiap kelompok untuk dinilai.
“wah, kelompok kalian hebat Amel. Kalian membuat ide
yang jarang dipakai ataupun dipikirkan kelompok lain.” Kata guru pembimbing.
Karena penasaran dengan karya kelompok Amel, maka
Indah pun melihat dari dekat. Setelah melihat dari dekat, betapa terkejutnya
Indah. Ternyata hasil karya Amel dan kelompoknya memakai idenya yang dulu
diceritakan Indah. Betapa kecewanya Indah, ternyata Amel memakai idenya
walaupun ia dan kelompoknya tidak memakai idenya itu. Indah merasa dikhianati
oleh Amel.
“selamat kelompok Amel, kalian mendapat nilai A+
untuk tugas membuat prakarya ini. Nilai kalian yang paling tinggi” kata guru
pembimbing.”
PADA JAM ISTIRAHAT
Seperti biasa Amel dan Indah pun bertemu ditaman
belakang sekolah untuk menghabiskan waktu bersama sekaligus saling bebincang
bincang.
“Indah, aku senang sekali karena kelompok kami
mendapat nilai yang bagu. Oh iya, berapa nilai kelompokmu Indah ?”
“B”
“lalu besok ada tugas apa yang akan dikumpulkan ?”
“tidak tahu.”
“indah, kamu kenapa sih ? daritadi kamu menjawab
singkat sekali. Kamu marah ?”
“tidak kok”
“ayo dong Indah cerita, ada apa sebenarnya ?”
“kamu benar benar gak peka ya. Kamu itu pengkhianat.
Kamu udah makai ideku untuk pembuatan proyek kemarin. Biarpun kamu itu pintar,
kamu gak bisa seenaknya. Mentang mentang aku ini bodoh, kamu mau memanfaatkan
kesempatan ini ya.”
“aku gak bermaksud khianatin kami Indah, itu gak
sengaja. Salah satu teman kelompokku yang puny ide itu, dan banyak yang
nyetujuin idenya. Jadinya kami memakai konsep itu. Tapi sungguh Indah, aku gak
pernah berpikir khianatin kamu.”
“udah, aku gak percaya. Mulai dari sekarang anggap
aja kita gak saling kenal. Kamu bukan temanku lagi.”
Indah pun berlalu pergi meninggalkan Amel yang
menatapnya. Semenjak saat itu, mereka seperti orang asing jika berpapasan
dijalan atau menjadi musuh jika hanya berdua.
KEWAKTU SEKARANG
Amel pun berhenti melamun dan menyadari sesuatu. Dia
harus memperbaiki hubungannya dengan Indah dan juga kesalahpahaman mereka. Amel
lalu pergi mencari Indah.
Waktu tiba didepan sekolah, banyak yang berkerumun
didepan sekolah. Setelah Amel melihat sumber dari kerumunan tersebut, ternyata
disana ada Indah yang lututnya berdarah. Sepertinya habis terserempet motor.
“Indah, sini aku bantu ke UKS.”
“gak usah biar aku sendiri saja.” Kata Indah sambil
menepis tangan Amel.
Tapi Amel gak menyerah, dia tetap memapah Indah ke
UKS untuk diobati lukanya.
“untung lukanya gak parah, lain kali kamu harus hati
hati ya.”
“buat apa kamu peduli sama aku.”
“karena aku sahabat kamu.”
“sahabat yang pengkhianat maksudnya.”
“kamu percaya deh sama aku kalau aku gak pernah
khianatin kamu. Itu semua gak disengaja Indah. Kalau kamu merasa tersinggung,
aku minta maaf banget sama kamu.”
“kamu gak perlu minta maaf Amel. Aku disini juga
salah, aku terlalu egois dan terlalu buta untuk gak mempercayai kamu.”
“kalau begitu kita masih sahabat kan.”
“iya, sahabat.”
SELESAI